Penerapan Ilmu Kimia Dalam Pembuatan Ekoenzim

Servasius Parihi
Guru Kimia
SMAN 1 Pantai Baru
Ilmu Kimia merupakan cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mengkaji zat atau senyawa dari segi sifat, komposisi, struktur, ikatan, perubahan dan pembuatannya serta perubahan energi yang terlibat (Mulyono dalam Fauziah, 2014). Senyawa kimia merupakan hal yang abstrak dan sulit untuk dipahami secara teoritis, sehingga perlu adanya penerapan ilmu kimia dalam kehidupan.
Peranan ilmu kimia memiliki banyak manfaat dalam kehidupan. Secara sadar atau tidak, udara yang digunakan mahkluk hidup untuk bernapas, berbagai jenis pupuk organik maupun anorganik, serta makanan dan minuman untuk keberlangsungan hidup manusia, merupakan beberapa contoh aplikasi nyata yang dihasilkan dari mempelajari ilmu kimia. Ilmu kimia juga sangat berperan penting dalam berbagai bidang, diantaranya bidang kesehatan, pertanian, biologi, arkeologi, maupun industri. Dalam bidang industri rumah tangga, limbah dari makanan yang dikonsumsi manusia seperti buah dan sayur-sayuran dapat menyebabkan penumpukkan sampah organik.
Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari sisa mahkluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai. Sampah organik dapat dikatakan sebagai sampah ramah lingkungan bahkan sampah tersebut dapat diolah kembali menjadi suatu yang bermanfaat bila dikelola dengan tepat, sebaliknya sampah organik dapat menimbulkan penyakit dan bau yang kurang sedap sehingga mencemari kualitas udara di lingkungan sekitar, akibat dari pembusukan sampah yang cepat. Berdasarkan jenisnya sampah organik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu; sampah organik kering, seperti kayu, ranting pohon, dan daun-daun kering. Sampah organik basah seperti; sisa sayur, kulit buah, kulit bawang dan sejenisnya.
Tingkat kepedulian dan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap sampah organik ini masih sangat kurang. Hal ini disebabkan karena pemahaman masyarakat bahwa sampah organik dapat terurai dengan sendiri, sehingga tidak perlu untuk dikelola lagi. Padahal sampah atau limbah organik dapat dikelola dengan berbagai teknik, seperti menghasilkan pupuk kompos dan ekoenzim yang memiliki banyak manfaat di berbagai bidang, tidak hanya pada pertanian, tetapi juga pada bidang industri lainnya.
Untuk mengurangi penumpukan sampah organik, dapat dikelola dengan menggunakan sistem ekoenzim. Ekoenzim adalah produk hasil fermentasi limbah kulit buah dan sayur dengan penambahan air dan gula. Mekanisme fermentasi limbah tersebut dengan mengubah glukosa (C6H12O6) menjadi asam piruvat (C3H4O3). Dalam kondisi anaerob (tidak membutuhkan oksigen), asam piruvat tersebut akan mengalami penguraian menjadi asetaldehida (C2H4O), lalu asetaldehida akan diubah oleh alkohol dehidrogenase menjadi etanol (C2H5OH) dan karbondioksida (CO2). Bakteri Acetobacter akan merubah alkohol menjadi asetaldehida dan air, selanjutnya asetaldehida akan diubah menjadi asam asetat (CH3COOH) . Proses fermentasi tersebut berlangsung selama tiga bulan hingga menghasilkan ekoenzim (Astuti et al, 2020).
Ekoenzim dapat dibuat dengan memanfaatkan limbah organik dari buah-buahan dan sayur-sayuran. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan ekoenzim antara lain; alat pembuatan ekoenzim yaitu; wadah untuk menyimpan limbah kulit buah dan sayur, botol plastik untuk proses fermentasi, pisau atau blender untuk mencacah limbah kulit buah dan sayur, dan sendok untuk mengaduk. Bahan pembuatan ekoenzim yaitu; 300 gr limbah kulit buah dan sayur sebagai bahan dasar dalam menghasilkan ekoenzim, 100 gr gula/molase sebagai bahan untuk mengubah glukosa menjadi asam piruvat, 1000 gr air sebagai pelarut dalam proses maserasi atau perendaman. Prosedur kerja untuk menghasilkan ekoenzim tersebut dengan menyiapkan limbah kulit buah, gula atau molase, dan air pada rasio 3 : 1 : 10, misalkan 300 gr kulit buah : 100 gr gula/molase : 1000 mL air. Selanjutnya semua bahan tersebut dicacah dengan menggunakan blender atau pisau, lalu dituang ke dalam botol atau wadah plastik. Pada tahap berikut, bahan yang telah dimasukkan dalam botol/toples tersebut, siap untuk difermentasi pada tempat yang kering dan sejuk pada suhu ruang. Kemudian bahan tersebut dibiarkan selama 3 bulan. Pada 2 minggu pertama, tutupan toples perlu dibuka setiap hari, dan selanjutnya dibuka seminggu sekali untuk mengeluarkan gas yang dihasilkan. Setelah melalui proses fermentasi tersebut, ekoenzim siap dipanen dengan cara memisahkan cairan dari residunya (ampas dari kulit buah). Ekoenzim dapat disaring dengan menggunakan kain kasa atau saringan biasa.
Ekoenzim yang dihasilkan, bukan untuk dikonsumsi langsung oleh manusia. Enzim ini dapat digunakan sebagai pupuk organik, membersihkan saluran air, pengganti sabun cuci piring, desinfektan, insektisida, deterjen, menghilangkan bau, menetralisir udara beracun dari asap rokok. Dalam bidang farmasi, dapat digunakan sebagai obat borok di kaki penderita diabetes dan sebagai obat jerawat (Dewi et al, 2020). Residu yang dihasilkan dari proses pembuatan ekoenzim dapat dijadikan biang pada proses fermentasi selanjutnya, atau dapat dikeringkan menjadi pupuk organik.
Ditinjau dari pentingnya sistem ekoenzim, maka pembuatan produk ekoenzim perlu diterapkan oleh lingkungan masyarakat maupun sekolah sehingga dapat membantu mengembalikan fungsi bumi yang sudah rusak, misalkan ekoenzim yang digunakan sebagai pupuk organik dapat membantu menyuburkan unsur-unsur hara dalam tanah yang sudah rusak. Ekoenzim juga dapat membersihkan udara yang telah tercemar oleh berbagai polusi udara, serta membantu penderita diabetes dalam proses penyembuhan penyakit penderita tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu kimia mempunyai peranan penting dan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup di bumi.

Pembelajaran kontekstual yang sangat luar biasa.
Mantap pak guru… informasi yang sangat bermanfaat…