Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa Internasional. Bahasa Inggris menjadi bahasa komunikasi di dunia sehingga hampir tidak ada negara yang tidak mempelajarinya. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, maka tuntutan untuk dapat menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi adalah sebuah kebutuhan. Dengan demikian, perlu adanya pemahaman dan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.
Di dalam dunia pendidikan pelajaran Bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran yang sangat penting dan harus dikuasai peserta didik, ironinya banyak peserta didik yang menganggap pelajaran bahasa Inggris sebagai pelajaran yang sulit. Mempelajari bahasa Inggris tidak akan terlepas dari pembelajaran keterampilan-keterampilan yang dapat mendukung penguasaan bahasa tersebut. Speaking (berbicara) menjadi salah satu keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah menengah. Banyak peserta didik mengalami kesulitan untuk berbicara dalam Bahasa Inggris ketika proses pembelajaran berlangsung. Hal ini bisa dipahami karena sistemnya agak berbeda dengan bahasa ibu.
Kebutuhan kecakapan berbicara Bahasa Inggris merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari di era globalisasi ini. Guru yang berfungsi sebagai fasilitator memegang peranan penting untuk membuat peserta didik cakap dalam berbicara Bahasa Inggris. Sistem belajar berbicara Bahasa Inggris harus mengutamakan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi peserta didik. Dengan memiliki kepercayaan diri, peserta didik diharapkan mampu mengekspresikan diri untuk belajar berkomunikasi. Kondisi kepercayaan diri peserta didik berbeda-beda saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah, dapat dilihat dari adanya gejala-gejala yang tampak diantaranya takut mengungkapkan pendapat, takut untuk bertanya saat kegiatan belajar, tidak memahami pelajaran, ragu-ragu saat berbicara di depan kelas karena tidak memiliki perbendaharaan kosa kata yang baik, dan diam saat ditunjuk guru untuk maju di depan kelas.
Selama ini pembelajaran Bahasa Inggris di kelas disampaikan dengan menggunakan metode ceramah dan penggunaan media pembelajaran yang sangat minim serta lebih difokuskan kepada keterampilan membaca (Reading) sehingga keterampilan berbicara (Speaking) tidak terlalu mendapat perhatian. Keterampilan speaking disajikan sebatas pada penjelasan mengenai fungsi ungkapan-ungkapan bahasa tanpa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikan ungkapan-ungkapan itu. Keadaan ini menjadikan peserta didik tidak termotivasi dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Penerapan metode role play dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris dapat membantu peserta didik meningkatkan rasa percaya diri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa asing tersebut. Peserta didik diarahkan untuk memerankan suatu karakter dimana dalam pelaksanaannya peserta didik memiliki peranannya masing-masing dalam suatu skenario yang telah diatur oleh guru. Menurut Amri dalam Ningsih (2014: 52) “metode role play adalah pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan peserta didik dengan cara peserta didik memerankan suatu tokoh, baik tokoh hidup maupun mati. Metode ini mengembangkan penghayatan, tanggung jawab, dan keterampilan pada materi yang dipelajari”.
Peserta didik memiliki identitas baru sesuai dengan tokoh yang diperankannya dalam berbagai konteks seperti legenda Malin Kundang, fabel, dan tokoh-tokoh khayalan lainnya dalam materi narrative text Peserta didik juga dapat menggunakan kostum tertentu untuk mendukung perannya. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan berkelompok ataupun berpasangan yang lebih mengarah ke kolaborasi sosial dan imajinasi dari pada kompetisi. Dalam metode role play ada dua peran atau lebih yang dipraktekkan oleh para peserta didik. Para peserta didik terlebih dahulu diberi ungkapan-ungkapan berupa kalimat dan kosa kata yang berkaitan dengan materi pembelajaran tertentu. Jadi metode role play bisa diadakan dengan mengaplikasikan bentuk – bentuk bahasa yang ada dalam dialog.
Metode role play dapat juga diterapkan dengan cara bebas yaitu para peserta didik hanya diberi bentuk bahasa lisan kemudian peserta didik yang membuat skenarionya. Tipe ini lebih disenangi karena memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berimprovisasi dalam menggunakan bahasa Inggris yang biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari serta memotivasi peserta didik untuk lebih kreatif.
Dampak yang ditimbulkan dari penerapan metode role play adalah: 1) peserta didik menjadi lebih berani dalam berinteraksi dan berkomunikasi, 2) peserta didik memiliki sikap percaya diri dan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain. 3) peserta didik mampu menghargai pendapat dan kekurangan orang lain, 4) peserta didik belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok.
Pengaplikasian metode role play ini tidak murni komunikatif tetapi kegiatan pembelajaran menggunakan metode ini merupakan bentuk lain untuk melatih kepercayaan diri peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang mana peserta didik dapat mengekspresikam dirinya tanpa harus merasa tertekan atau terbebani dikarenakan memiliki pengalaman tampil dan berbicara bahasa Inggris sebelumnya.
