Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai kegiatan untuk mengembangkan karakter dan kompetensi peserta didik perlu dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Untuk mendayagunakan pelaksanaan projek maka diperlukan keterlibatan berbagai pihak baik intern maupun pihak luar sekolah. Hal ini dimaksudkan agar nilai- nilai Pancasila dapat tercermin dalam setiap aspek kehidupan dan keseharian peserta didik.
Sebagai ideologi, nilai-nilai pancasila mestinya hidup di dalam diri peserta didik sehingga menjadi pedoman dalam kehidupan bersama. Untuk mewujudkan hal tersebut Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi telah menetapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menjadi kegiatan kokurikuler. Dan pada tingkat satuan pendidikan diberikan alokasi waktu yang cukup dalam struktur kurikulum merdeka. Kegiatan projek memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar berbagai hal yang tidak diperoleh dalam pembelajaran intrakurikuler. Melalui Model Pembelajaran Inkuiri peserta didik dapat mengidentifikasi berbagai permasalahan dan isu-isu yang berada di lingkungan sekolah maupun lingkungan kehidupannya, dan daripadanya dapat diambil solusi yang berkontribusi memperbaiki dan merubahnya menjadi lebih baik dan berguna. Selain mengembangkan karakter, lewat projek peserta didik dapat mengembangkan keterampilan untuk mencapai kecakapan hidup dan dapat ditemukan berbagai alternatif sebagai solusi terhadap permasalahan dalam berbagai situasi yang dijumpai. Rasa tanggung jawab dan kepedulian akan semakin bertumbuh seiring dengan semakin seringnya tingkat keterlibatan siswa secara terus menerus dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

SMA Negeri 1 Pantai Baru telah melaksanakan 5 tema P5 yakni : 1) suara demokrasi, 2) kewirausahaan, 3) gaya hidup berkelanjutan, 4) kearifan lokal, dan 5) bangunlah jiwa dan raganya. Kelima tema ini difasilitasi oleh para wali kelas sebagai fasilitator utama dan dibantu oleh satu orang guru sebagai pembantu fasilitator. Banyak kendala yang dihadapi guru dan fasilitator projek. Kurang lebih 80 persen guru yang mengalami miskonsepsi dalam pelaksanaan projek antara lain bahwa capaian kegiatan projek identik dengan penilaian produk dan lebih dari itu peran guru lebih dominan, bukan sebagai fasilitator sehingga ide atau gagasan yang lahir dalam kegiatan projek bukan ide siswa tetapi lebih didominasi ide guru.
Selain itu beberapa masalah yang dihadapi dalam melaksanakan P5 adalah: 1). kurangnya pemahaman konsep P5 , 2) kesulitan membagi waktu, 3) miskomunikasi antara koordinator, fasilitator dan orang tua peserta didik, 4) masih sangat kurang pemahaman guru terhadap konsep pelaksanaan P5 , 5) guru juga mengalami kesulitan untuk membagi waktu karena melaksanakan kurikulum ganda; kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka.
Tantangan yang dihadapi oleh penulis saat menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengimplementasi P5 meliputi: 1) dukungan kepala sekolah untuk mengembangkan kapasitas guru melaksanakan projek belum maksimal, 2) kepala sekolah masih hanya sebatas menerbitkan surat keputusan (SK) pembagian koordinator dan fasilitator P5, 3) intervensi perhatian belum ditunjukkan secara nyata dalam pelaksanaan projek dan di sisi lain guru belum optimal memotivasi siswa dalam kegiatan P5 sehingga banyak siswa yang enggan mengikuti kegiatan tersebut sebagai akibat belum memahami tujuan dan manfaat P5, 4) secara eksternal ditemui bahwa komunikasi yang kurang maksimal memicu pelaksanaan projek berjalan seadanya karena pelaksanaan projek mengikuti kemauan fasilitator ataupun koordinator, tanpa perencanaan yang tepat dan jelas, 5) selain itu komunikasi kepada orang tua juga sangat minim sehingga banyak orang tua berprasangka bahwa kegiatan P5 hanya menghabiskan waktu bagi peserta didik bermain di sekolah.
Berdasarkan masalah dan hambatan yang dialami maka perlu dilakukan penyelesaian sehingga tidak menimbulkan akumulasi persoalan. Intervensi kegiatan yang perlu dilakukan oleh kepala sekolah untuk mengatasi kendala yang dialami dalam P5. Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah hendak menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh guru pada satuan pendidikan dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar pancasila. Berikut ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk pendampingan dan intervensi kepala sekolah. Pertama, memberikan penguatan pemahaman konsep, alur dan perencanaan. Untuk menguatkan konsep P5 kurang lebih 33 guru, 13 orang guru laki-laki dan 20 guru perempuan, diikutsertakan dalam kegiatan IHT yang membahas secara khusus P5 dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM). Setelah mempelajari banyak hal maka guru diminta untuk memperdalam alur penyusunan P5. Kegiatan terakhir terkait dengan menyusun modul P5 yang merujuk pada kegiatan yang dilakukan sebelumnya. Demi memastikan kelayakan modul dan sebagai bagian dari pembelajaran bersama maka perlu dilakukan presentasi modul oleh masing-masing guru di hadapan para peserta IHT. Sementara semua peserta diberi kesempatan untuk memberikan masukan sesuai pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh selama mempelajari PMM.
Kedua, melakukan pendampingan langsung saat pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Oleh karena pelaksanaan P5 merupakan kegiatan yang belum biasa maka pendampingan atau pantauan dilakukan kepada para fasilitator yang menangani P5. Kepala sekolah berusaha melaksanakan tugasnya dalam memantau sebagai coach yang tidak pernah mengomentari kegiatan yang dilakukan para fasilitator.
Ketiga, melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan projek penguatan profil pelajar pancasila. Sebelum melakukan monitoring guru diberikan sejumlah instrumen monitoring untuk dipedomani. Pedoman monitoring setidaknya memberikan gambaran sejauhmana pelaksanaan dimensi atau sub dimensi profil pelajar pancasila diimplementasikan selama kegiatan P5. Selain itu kegiatan monitoring memastikan guru sebagai fasilitator sejati dalam P5. Sebagai tindak lanjut maka fasilitator bersama kepala sekolah melakukan kegiatan refleksi tentang peran fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran.
Keempat, melakukan refleksi bersama kepala sekolah, fasilitator dan koordinator projek. Untuk menjadi kegiatan pembelajaran bersama maka refleksi dilakukan secara bersama antara kepala sekolah, fasilitator dan koordinator projek. Forum ini diperluas dengan menghadirkan semua guru dalam refleksi rutin setiap hari sabtu. Para fasilitator diberi kesempatan untuk menyampaikan hal positif, hambatan, dan tantangan kepada kepala sekolah, koordinator projek dan semua guru yang hadir dalam memfasilitasi kegiatan P5. Semua peserta refleksi mempunyai kesempatan untuk memberikan tanggapan atau saran kepada para fasilitator. Pada hari sabtu terakhir dalam bulan dihadirkan pula perwakilan orang tua dalam refleksi bersama sehingga mengurangi kesan kebanyakan orangtua bahwa kegiatan P5 untuk membuang waktu.
Setelah beberapa kegiatan dilakukan maka dari hasil observasi partisipasi terhadap 33 guru SMA Negeri 1 Pantai Baru melalui pendampingan, penguatan, monitoring dan refleksi pelaksanaan kegiatan projek penguatan profil pelajar pancasila , pemahaman konsep, alur dan perencanaan projek oleh guru semakin baik dan projek dilaksanakan secara optimal sehingga upaya mengembangkan kompetensi dan karakter siswa dapat dicapai. Tingkat pemahaman para fasilitator relatif tinggi, 80 % guru SMA Negeri 1 Pantai Baru memahami alur dan perencanaan P5, dan 95 % fasilitator mengetahui perannya dalam pembelajaran.
Berdasarkan survei yang dilakukan kepada guru maka lebih dari 80 persen guru mengatakan amat puas, 15 % puas dan 5 % cukup puas dengan peran kepala sekolah dalam melaksanakan peran sebagai pemimpin pembelajaran. Selain itu kesadaran akan peran pemangku kepentingan semakin berkembang dan keterlibatan orang tua bertambah dengan memberikan dukungan terhadap kegiatan P5 lebih baik dan siswa semakin termotivasi untuk belajar. Survei yang dilakukan bagi 10 orang perwakilan orangtua memperlihatkan bahwa 100 persen orang tua sangat puas dengan kebijakan sekolah untuk menghadirkan orangtua dalam pelaksanaan projek. Oleh karena itu keterlibatan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran sangat mutlak diperlukan dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar pancasila. Kehadiran pemimpin pembelajaran memungkinkan pelaksanaan projek semakin berdaya guna dan berhasil guna.

*Mikhael Kega, lahir di Ngada pada 24 Februari 1968 dan dipercayakan menjadi Kepala SMA Negeri 1 Rote Timur pada tahun 2010. Pada tahun 2017 mengantar sekolah ini meraih peringkat akreditasi A dari akreditasi sebelumnya C. Pada tahun 2022 dipindahkan menjadi Kepala SMA Negeri 1 Pantai Baru dan pada tahun 2023 mempersembahkan peringkat A bagi sekolah ini dari sebelumnya B. Selama tahun 2023 berhasil memotivasi Guru Penggerak 2 orang dan 2 orang lainnya pada 2024 sedangkan 3 lainnya masih berstatus sebagai Calon Guru Penggerak.
